Patut Waspada, Epilepsi Juga Bisa Sebabkan Kematian Mendadak


Di usia 38 tahun, Florence Delorez Griffith Joyner alias Flo-Jo yang merupakan pelari asal AS meninggal akibat serangan epilepsi pada saat dia tidur. Ya, kerap kali pasien epilepsi meninggal mendadak tanpa penyebab kematian yang jelas. Mengapa bisa demikian?

Serangan epilepsi yang kemudian berujung kematian disebut sudden enexpected death in epilepsy alias SUDEP. Nah, SUDEP ini biasanya ditandai dengan masalah jantung atau pernapasan. Namun pemicu sesungguhnya selama ini masih misterius, sehingga kemunculannya tidak bisa diprediksi.

"Jadi pasien epilepsi itu kalau hanya kejang saja tidak ada yang meninggal. Ada juga orang yang yang serangan kejangnya sekali lalu berhenti atau terus-terusan kejang dan tidak berhenti. Sering kali yang membuat pasien berat itu efek sekundernya," ujar dr Diatri Nari Lastri, SpS(K)- RSCM, dalam perbincangan dengan detikHealth, dan ditulis pada Rabu (2/4/2014).

Baca juga: Epilepsi Tidak Kambuh Lagi Setelah Rutin 1 Bulan Terapi Produk Perlebahan

Karena serangan yang terus terjadi, biasanya hal itu menyebabkan pasien terbentur ke pintu atau bahkan jatuh. "Kalau tidur sih tidak apa-apa, palingan hanya lemas sebentar. Kalau kejangnya sampai membuat jatuh lalu kepalanya terbentur sampai menyebabkan masalah baru bahaya itu, atau kalau kambuh sewaktu masak lalu tersiram air panas. Kalau sedang berenang juga tiba-tiba kejang lalu airnya masuk ke paru-paru," lanjut dr Diatri.

Menurutnya, orang yang meninggal akibat epilepsi adalah karena efek sekunder. Efek sekunder itu yang kemudian membuat seseorang dengan epilepsi meninggal. dr Diatri mencontohkan misalnya orang yang sedang menyeberang jalan, lalu kemudian terkena serangan epilepsi dan kemudian tertabrak kendaraan.

"Atau kalau sedang menyetir. Karena kan kalau sedang serangan si pasiennya ini tidak sadar," imbuhnya.

Baca juga: Bagaimana Menyembuhkan Kejang Epilepsi Secara Alami

Bagaimana mencegahnya? Menurut dr Diatri, pencegahannya adalah dengan berobat teratur. Selain itu pasien dan keluarganya diharapkan lebih berhati-hati. Sehingga pasien epilepsi yang sering kali mendapat serangan sebaiknya tidak mengendarai mobil atau berenang, dan jangan sampai terjadi kecelakaan. 

"Jarang ya yang sebenarnya tiba-tiba meninggal, kalau dalam hitungan menit meninggal biasanya itu ada gangguan jantung," kata dr Diatri.

Dihubungi terpisah, dr Andreas Prasadja, RPSGT, dokter di Rumah Sakit Mitra Kemayoran menuturkan orang yang sesekali kejang tidak apa-apa. Namun yang perlu dikhawatirkan adalah orang dengan status epilepsi, di mana kejang terjadi tanpa ada selanya. 

"Saat itu kan orangnya hilang kesadaran. Kalau setiap kejang hentikan, jangan sampai berulang, cari penyebabnya. Kalau menghentikan kejang ada prosedurnya, ada step by step-nya yang dilakukan oleh dokter," ucapnya.

Tidak ada angka pasti mengenai risiko SUDEP, namun diperkirakan terjadi pada 1 di antara 1.000 penderita epilepsi. Di Inggris, SUDEP telah menewaskan 500-1.000 pertahun sementara di Australia baru 150 kasus yang pernah tercatat.

Sebuah penelitian yang dilakukan di University of Sydney berhasil mengungkap sebagian dari tabir misteri tersebut. Penelitian tersebut menelusuri 68 kasus SUDEP yang terjadi di Australia antara 1993-2009, lalu membandingkan DNA pada sampel darah dari 48 kasus di antaranya.

Baca juga: Paket Terapi untuk Epilepsi

Pengamatan itu berhasil mengungkap 3 penanda genetik pada sampel darah para korban SUDEP yang diberi kode KCNQ1, KCNH2 dan SCN5A. Ketiga penanda genetik tersebut berhubungan dengan fungsi otak yang bertanggung jawab untuk mengatur pernapasan dan denyut jantung.

Temuan ini memberikan sedikit penjelasan mengenai risiko SUDEP yang selama ini jarang diteliti. Para peneliti berniat untuk terus mengembangkan temuannya itu, agar suatu saat nanti bisa menemukan bentuk intervensi sebagai pencegahan.

Sumber: DetikHealth